Seputar Publik / Berita

Bicara di PBB, Teguh Santosa Soroti Pembangunan Sahara Maroko dan Dorong Solusi Politik Berkelanjutan

Petisioner Indonesia di Komite 4 PBB memaparkan pembangunan Laayoune dan Dakhla, infrastruktur strategis, energi terbarukan, serta pandangannya terhadap perkembangan proses politik Sahara Barat.
Direktur Geopolitik GREAT Institute dan dosen Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Teguh Santosa, menyampaikan pandangan mengenai pembangunan dan perkembangan politik Sahara Barat dalam forum Komite 4 PBB. Direktur Geopolitik GREAT Institute dan dosen Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Teguh Santosa, menyampaikan pandangan mengenai pembangunan dan perkembangan politik Sahara Barat dalam forum Komite 4 PBB.

Teguh juga menyoroti investasi pada sektor energi terbarukan serta fasilitas desalinasi air yang menurutnya dapat mendukung kebutuhan sumber daya dan pembangunan di wilayah tersebut.

Ia menilai pembangunan infrastruktur dan penguatan ekonomi perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Sejarah dan Perdebatan Status Sahara Barat

Dalam pemaparannya, Teguh juga mengangkat perspektif sejarah mengenai hubungan wilayah Sahara dengan Kerajaan Maroko.

Ia menyebut hubungan tersebut antara lain dikaitkan dengan hubungan historis, kultural, serta sumpah kesetiaan (bay'ah) antara sejumlah suku setempat dengan Sultan Maroko.

Teguh juga menyinggung periode kolonial ketika Prancis dan Spanyol menguasai sejumlah wilayah di Maroko dan kawasan Sahara.

Setelah Maroko memperoleh kemerdekaan pada 1956, perjuangan untuk memperoleh kembali wilayah yang saat itu berada di bawah penguasaan Spanyol terus berlangsung.

Persoalan status Sahara Barat hingga kini masih menjadi isu internasional yang dibahas dalam kerangka PBB.

Tulis Komentar

Komentar