Salah satu pertanyaan yang mengemuka adalah mengenai perbedaan antara karya jurnalistik dan sastra. Secara umum, jurnalistik bertumpu pada fakta, sedangkan sastra memiliki ruang untuk fiksi.
Namun, menurut Bre, perkembangan teknologi dan internet membuat batas antara fakta dan fiksi semakin sulit dikenali, terutama ketika masyarakat berhadapan dengan gambar maupun tulisan yang dapat dibuat atau dimanipulasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan.
Ia mencontohkan bagaimana sebuah gambar peristiwa pada era digital dapat menimbulkan pertanyaan mengenai apakah gambar tersebut benar-benar merekam kejadian nyata atau merupakan hasil rekayasa AI.
Menurut Bre, jurnalistik dan sastra pada dasarnya memiliki akar yang sama, yakni kata-kata. Ia melihat adanya kedekatan antara penulisan feature dan karya sastra, terutama dalam penggunaan bahasa untuk menggambarkan suatu peristiwa.
Bre juga menyebut nama penulis dan jurnalis Gabriel Garcia Marquez (GGM) sebagai salah satu figur yang menurutnya memiliki kemampuan luar biasa dalam menulis feature jurnalistik dengan bahasa yang indah.
Pengaruh tersebut bahkan disebut Bre dalam novel yang diterbitkan di Yogyakarta tersebut.
Komentar