Alih-alih hanya menjadi kenangan kelam, pengalaman tersebut ikut mengarahkan Buyung pada jalur pengabdian sosial.
Ia merintis kegiatan dari relawan hingga kemudian menjadi ketua lembaga advokasi narkoba Bersama pada 1982. Langkah itu memiliki tantangan tersendiri karena dilakukan pada masa ketika teknologi komunikasi dan penyebaran informasi belum berkembang seperti sekarang.
Media sosial belum hadir. Komunikasi masih banyak mengandalkan telepon rumah, sementara telepon seluler dan internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dalam situasi tersebut, membangun gerakan sosial membutuhkan jaringan personal, komunikasi langsung, dan ketekunan. Upaya mengedukasi masyarakat mengenai bahaya narkoba juga memerlukan keberanian untuk menghadapi persoalan yang tidak selalu mudah dibicarakan secara terbuka.
Pada titik inilah grafik pengabdian Buyung mulai menunjukkan arah yang berbeda. Kehidupan yang semula banyak diwarnai kemapanan dan kebebasan pribadi perlahan bersinggungan dengan tanggung jawab sosial.
Pendidikan Tinggi, Amanat Sang Ayah
Di balik perjalanan Buyung, terdapat harapan besar dari sang ayah, Ramli Hadi.
Komentar