Beranda
Seputar Publik / Opini

Asri Hadi alias Buyung: Grafik Kehidupan Anak Lintau, dari Kemapanan hingga Pengabdian dan Jalan Pulang

Biografi Asri Hadi: Perjalanan, Pengabdian dan Jalan Pulang* mengisahkan perjalanan seorang putra Lintau, Tanah Datar, yang melewati dinamika kehidupan, membangun kepedulian terhadap persoalan narkoba, meniti karier di dunia pemerintahan, hingga memilih jalan jurnalistik.
Asri Hadi alias Buyung, putra Lintau, Tanah Datar, dalam kisah perjalanan hidup yang penuh dinamika. Buku biografinya, *Asri Hadi: Perjalanan, Pengabdian dan Jalan Pulang*, merekam perjalanan keluarga, pendidikan, pengabdian sosial, karier, hingga pilihan hidupnya menjadi pewarta. Asri Hadi alias Buyung, putra Lintau, Tanah Datar, dalam kisah perjalanan hidup yang penuh dinamika. Buku biografinya, *Asri Hadi: Perjalanan, Pengabdian dan Jalan Pulang*, merekam perjalanan keluarga, pendidikan, pengabdian sosial, karier, hingga pilihan hidupnya menjadi pewarta.

Seputarpublik.com || JAKARTA — Apakah anak-anak yang dibesarkan dengan segala kemudahan hidup akan selalu memilih jalan yang nyaman? Perjalanan Asri Hadi alias Buyung menunjukkan bahwa kehidupan tidak sesederhana itu. Ada grafik yang naik dan turun, ada persimpangan yang mengubah arah, serta pengalaman yang membentuk seseorang menjadi pribadi yang berbeda dari masa lalunya.

Membaca buku biografinya, *Asri Hadi: Perjalanan, Pengabdian dan Jalan Pulang*, saya menangkap setidaknya tiga garis besar dalam perjalanan hidup Buyung: memenuhi harapan keluarga, berupaya memperbaiki kehidupan sosial di sekitarnya, dan mengejar pencapaian pribadi.

Ketiganya tidak selalu berjalan mulus. Namun, justru dari pertemuan dan persilangan ketiga tujuan itulah perjalanan hidup Asri menjadi menarik untuk disimak.

Buku ini ditulis oleh Mustafa Kamal, seorang urang awak yang berasal dari kampung halaman yang sama. Ia merupakan magister hukum, pensiunan pegawai negeri sipil, dan mantan ketua Persatuan Wartawan di Tanah Datar. Dalam buku tersebut, Mustafa merekam perjalanan Asri Hadi, meskipun nama panggilan Buyung yang akrab digunakan teman-temannya semasa kuliah tidak dicantumkan dalam judul.

Ketika Kemapanan Membawa Ujian

Grafik kehidupan Buyung mulai bergejolak ketika ia menikmati kebebasan dan keleluasaan finansial sebagai anak muda di Jakarta Selatan.

Asri merupakan putra Ramli Hadi, seorang pengusaha sukses yang bergerak di bidang perdagangan hasil bumi, impor bahan pokok, transportasi, dan perumahan. Kehidupan keluarga yang mapan memberinya kesempatan menikmati berbagai kemudahan yang tidak dimiliki semua anak muda pada zamannya.

Saat kuliah di Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Indonesia (FISIP UI), Buyung tinggal sendiri di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan. Lokasinya tidak jauh dari kawasan Blok M yang kala itu dikenal dengan kehidupan malam, restoran, bar, kafe, dan diskotek.

Salah satu aktivitasnya adalah membantu menagih setoran hasil penyewaan armada Metro Mini milik ayahnya di Terminal Blok M. Uang yang dipegangnya pada masa itu terbilang besar bagi seorang mahasiswa.

Pada awal 1980-an, ketika harga beras masih berada di kisaran ratusan rupiah per kilogram dan harga emas sekitar Rp10.000 per gram, uang setoran yang diterimanya memberikan keleluasaan untuk menikmati kehidupan anak muda di Ibu Kota.

Namun, kehidupan malam juga mempertemukannya dengan berbagai risiko. Di antara teman-temannya, ada seorang sahabat yang mengalami kecanduan narkoba. Buyung sempat mengira sahabatnya itu mampu mengendalikan ketergantungannya. Kenyataannya berbeda: sang sahabat meninggal dunia akibat overdosis narkoba.

Peristiwa tersebut menjadi pukulan tersendiri bagi Buyung. Di tengah lingkungan yang membuat alkohol, narkoba, dan pergaulan malam mudah dijumpai, pengalaman kehilangan seorang sahabat menghadirkan kenyataan pahit tentang bahaya penyalahgunaan narkoba.

Pengalaman itu kemudian menjadi salah satu titik balik penting dalam grafik kehidupannya.

Dari Pengalaman Pribadi Menuju Pengabdian Sosial

Alih-alih hanya menjadi kenangan kelam, pengalaman tersebut ikut mengarahkan Buyung pada jalur pengabdian sosial.

Ia merintis kegiatan dari relawan hingga kemudian menjadi ketua lembaga advokasi narkoba Bersama pada 1982. Langkah itu memiliki tantangan tersendiri karena dilakukan pada masa ketika teknologi komunikasi dan penyebaran informasi belum berkembang seperti sekarang.

Media sosial belum hadir. Komunikasi masih banyak mengandalkan telepon rumah, sementara telepon seluler dan internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dalam situasi tersebut, membangun gerakan sosial membutuhkan jaringan personal, komunikasi langsung, dan ketekunan. Upaya mengedukasi masyarakat mengenai bahaya narkoba juga memerlukan keberanian untuk menghadapi persoalan yang tidak selalu mudah dibicarakan secara terbuka.

Pada titik inilah grafik pengabdian Buyung mulai menunjukkan arah yang berbeda. Kehidupan yang semula banyak diwarnai kemapanan dan kebebasan pribadi perlahan bersinggungan dengan tanggung jawab sosial.

Pendidikan Tinggi, Amanat Sang Ayah

Di balik perjalanan Buyung, terdapat harapan besar dari sang ayah, Ramli Hadi.

Meski berhasil membangun usaha dan mencapai kemapanan ekonomi tanpa latar belakang pendidikan formal yang tinggi, Ramli memiliki tekad agar kelima anaknya memperoleh pendidikan setinggi mungkin.

Baginya, keberhasilan ekonomi bukan alasan untuk mengabaikan pendidikan. Anak-anaknya harus memiliki bekal ilmu sebagai modal menghadapi kehidupan.

Harapan tersebut terwujud. Keluarga Ramli Hadi melahirkan anak-anak dengan latar belakang profesi yang beragam, mulai dari dokter, insinyur, ekonom, hingga sosiolog. Selain pendidikan, kesejahteraan keluarga juga menjadi perhatian yang dipenuhi oleh sang ayah.

Bagi Buyung, harapan keluarga itu menjadi salah satu garis tujuan yang terus berjalan beriringan dengan keinginan memperbaiki kualitas dirinya.

Ia memperdalam kemampuan bahasa Inggris di Brighton, Inggris, kemudian menyelesaikan pendidikan magister di Monash University, Australia. Pengalaman pendidikan dan kemampuan berbahasa tersebut menjadi bekal untuk tampil dalam berbagai forum internasional ketika mewakili organisasi Bersama.

Pendidikan bukan sekadar pencapaian akademis, melainkan modal untuk memperluas cakrawala, membangun jaringan, dan menjalankan pengabdian dengan perspektif yang lebih luas.

Meniti Karier dari Bawah

Seperti banyak keluarga pada generasi orang tua Buyung, pekerjaan sebagai pegawai negeri menjadi salah satu bentuk kemapanan dan kebanggaan yang diharapkan bagi anak-anak.

Pada masa itu, profesi seperti YouTuber atau kreator konten belum dikenal sebagai pilihan karier sebagaimana sekarang. Pekerjaan di pemerintahan menawarkan jalur pengabdian yang jelas sekaligus ruang untuk mengembangkan kemampuan.

Buyung memperoleh kesempatan berkarier di lingkungan Institut Ilmu Pemerintahan (IIP), yang kemudian berkembang dalam lingkungan pendidikan pemerintahan dan terkait dengan IPDN. Perjalanannya dimulai dari posisi asisten Menteri Dalam Negeri Soepardjo Roestam, sebelum kemudian terlibat dalam kegiatan pengajaran di Seskoal dan berbagai urusan yang berkaitan dengan proses demokrasi, termasuk pemilihan umum.

Dalam bidang kepemiluan, ia memperoleh brevet untuk mengajar petugas pemilu di berbagai tingkatan.

Pengalaman tersebut memperlihatkan sisi lain perjalanan Buyung. Ia tidak hanya menempuh jalur pendidikan formal, tetapi juga mengembangkan kemampuan praktis melalui pekerjaan, pengajaran, dan keterlibatan dalam proses kelembagaan.

Grafik kariernya bergerak seiring dengan upaya memenuhi harapan keluarga dan membangun pencapaian pribadi.

Pengalaman Dunia Usaha Melengkapi Perjalanan

Perjalanan Buyung tidak berhenti pada dunia pemerintahan dan pendidikan.

Ia juga menerima tawaran dari pengusaha Adiguna Sutowo untuk bergabung dengan PT Mugi Rekso Abadi. Di perusahaan tersebut, Buyung memperoleh pengalaman praktis sebagai manajer personalia.

Pengalaman di sektor swasta memberinya perspektif lain tentang pengelolaan sumber daya manusia, dinamika organisasi, dan dunia usaha.

Jika pengalaman di lingkungan pemerintahan memperkenalkannya pada tata kelola kelembagaan, dunia usaha memberinya kesempatan untuk memahami praktik manajemen dari sisi yang berbeda.

Berbagai pengalaman itu menjadi bagian dari grafik kehidupan yang terus bergerak, mempertemukan pendidikan, pekerjaan, pengabdian, dan pencapaian diri.

Menemukan Pendamping Hidup

Ada satu bagian kehidupan yang akhirnya melengkapi perjalanan pribadi Buyung: pernikahan.

Pada usia 41 tahun, Asri Hadi terpikat kepada Marie Loedin, perempuan berdarah Indo-Minang dan Belanda. Hubungan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan keluarga Buyung.

Selama sekitar dua dekade, Buyung dan Marie bersama dua putri mereka tinggal di kompleks perumahan IIP di kawasan Ampera Raya, Jakarta Selatan.

Rumah itu menjadi saksi perjalanan keluarga, tempat membangun kenangan, serta ruang bagi kehidupan pribadi di tengah kesibukan pekerjaan dan berbagai aktivitas sosial.

Ketika memasuki masa pensiun, Buyung meninggalkan rumah yang menyimpan banyak kenangan tersebut. Namun, pensiun ternyata bukan akhir dari perjalanan.

Memilih Jalan Jurnalistik

Setelah melewati berbagai fase kehidupan, Buyung kembali mengambil jalur yang berbeda: menjadi pewarta.

Pilihan tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan seseorang tidak selalu berakhir ketika memasuki masa pensiun. Selalu ada ruang untuk mencoba hal baru, memperluas pengalaman, dan menemukan makna lain dalam kehidupan.

Dunia jurnalistik memberinya kesempatan untuk terus bergerak, bertemu orang-orang baru, mengikuti peristiwa, serta merekam dinamika masyarakat.

Bagi Buyung, kehidupan seolah tetap terasa hidup. Grafik prestasi dan pengabdiannya terus bergerak, sementara pengalaman masa lalu menjadi bekal untuk menjalani babak baru.

Pada akhirnya, perjalanan Asri Hadi alias Buyung mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu bergerak lurus ke atas. Ada masa ketika kemapanan membawa keleluasaan, ada pengalaman yang mengguncang, ada tuntutan keluarga yang harus dipenuhi, serta ada pilihan-pilihan baru yang muncul seiring bertambahnya usia.

Semua itu dirangkai dalam buku "Asri Hadi: Perjalanan, Pengabdian dan Jalan Pulang", karya Mustafa Kamal.

Judul tersebut menghadirkan refleksi tentang perjalanan panjang seorang manusia: dari keluarga dan pendidikan, menuju pengabdian sosial, karier, kehidupan pribadi, hingga pencarian makna pada fase kehidupan berikutnya.

Sebab, jalan pulang tidak selalu berarti kembali ke tempat asal. Ia juga dapat menjadi perjalanan untuk memahami kembali pengalaman, pilihan, dan nilai-nilai yang membentuk diri seseorang.

Informasi Buku

Judul: Asri Hadi: Perjalanan, Pengabdian dan Jalan Pulang

*Penulis: Mustafa Kamal

Harga: Rp80.000

Bagi pembaca yang ingin memperoleh buku biografi ini, pemesanan dapat dilakukan melalui Dilla melalui WhatsApp di nomor +62 896-6096-1660.