Beranda
Seputar Publik / Berita

Hari Tani Nasional, PTPN IV PalmCo Serap 8,42 Juta Ton TBS Petani dan Perkuat Program Peremajaan Sawit

Hingga Agustus 2026, PalmCo mendampingi 49.077,94 hektare kebun rakyat melalui edukasi, Rekomtek PSR, penerapan GAP, dan jaminan penyerapan hasil panen.
PTPN IV PalmCo memperkuat kemitraan dengan petani sawit melalui penyerapan TBS, pendampingan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), edukasi berkelanjutan, dan penerapan tata kelola perkebunan yang baik. PTPN IV PalmCo memperkuat kemitraan dengan petani sawit melalui penyerapan TBS, pendampingan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), edukasi berkelanjutan, dan penerapan tata kelola perkebunan yang baik.

Seputarpublik.com || JAKARTA, — Peringatan Hari Tani Nasional kembali menyoroti pentingnya peran petani kelapa sawit dalam menjaga keberlanjutan rantai pasok industri sawit nasional.

Di tengah tantangan fluktuasi harga komoditas global dan kebutuhan peningkatan produktivitas kebun, penguatan kemitraan antara korporasi dan petani menjadi salah satu langkah yang dinilai penting. Salah satu entitas yang terus mengintensifkan pendampingan terhadap petani sawit swadaya dan plasma adalah PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo.

Kepala Pusat Studi Sawit IPB University, Prof. Budi Mulyanto, mengingatkan bahwa industri sawit nasional masih memiliki ketergantungan besar terhadap perkebunan rakyat.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam mendukung agenda hilirisasi sawit yang tengah didorong pemerintah.

«“Peremajaan sawit ini sangat penting. Saat ini hampir 50 persen sawit Indonesia itu merupakan sawit rakyat dan sebagian besar tanaman sudah tua,” ujar Prof. Budi baru-baru ini.»

Ia menjelaskan, tanaman sawit yang telah memasuki usia tua dapat berdampak terhadap produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) secara nasional.

«“Kalau tidak diremajakan, maka bagaimana kita bicara program hilirisasi? Karena produksi menentukan hilirisasi,” tambahnya.»

PalmCo Serap 8,42 Juta Ton TBS Petani

PTPN IV PalmCo, sebagai subholding BUMN perkebunan yang terbentuk pada Desember 2023, mengambil peran tidak hanya sebagai fasilitator peremajaan kebun rakyat, tetapi juga sebagai offtaker atau penyerap hasil panen petani.

Terhitung sejak 2024, 2025 hingga Agustus 2026, pabrik kelapa sawit milik PalmCo tercatat telah menyerap sedikitnya 8,42 juta ton TBS dari kebun sawit rakyat.

Penyerapan tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan kepastian pasar bagi petani di tengah dinamika industri dan perubahan harga komoditas.

Langkah tersebut berjalan beriringan dengan program edukasi serta penerbitan Rekomendasi Teknis (Rekomtek), sehingga petani dapat mengakses dana Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Komitmen pendampingan tersebut tercermin dari realisasi Rekomtek yang terus meningkat dalam tiga tahun terakhir.

Pada 2024, PalmCo mendampingi petani sawit dalam Program PSR dengan luasan mencapai 13.493 hektare.

Capaian tersebut meningkat pada 2025 menjadi 23.188 hektare.

Sementara hingga Agustus 2026, perusahaan telah mendampingi 49.077,94 hektare kebun rakyat di berbagai wilayah operasionalnya.

Terapkan Pendampingan dengan Standar Kebun Inti

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan perusahaan menerapkan sistem single management atau manajemen tunggal dalam pendampingan petani.

Melalui pendekatan tersebut, kebun milik rakyat didampingi dengan penerapan standar pengelolaan yang diselaraskan dengan kebun inti perusahaan.

«“Kami memastikan bahwa petani tidak berdiri sendiri. Kami hadir untuk mendampingi mereka dari proses administrasi awal untuk peremajaan kebun, penerapan Good Agricultural Practices (GAP) yang setara dengan standar kebun inti, hingga memberikan jaminan penyerapan TBS dengan harga yang adil,” kata Jatmiko.»

Menurut Jatmiko, pola pendampingan tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produktivitas kebun rakyat, tetapi juga menjaga stabilitas pasokan bahan baku CPO bagi pabrik-pabrik pengolahan milik perusahaan.

Dengan demikian, kemitraan antara perusahaan dan petani diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kedua pihak, sekaligus memperkuat keberlanjutan industri sawit nasional.

Petani: PSR Bukan Sekadar Mengganti Tanaman Tua

Pendekatan kemitraan yang dilakukan PTPN IV PalmCo bersama petani dan KUD mendapat respons positif dari asosiasi petani di daerah.

Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (ASPEKPIR) Indonesia, Setiyono, menilai kemitraan tersebut dapat membantu menjawab sejumlah tantangan yang selama ini dihadapi petani di tingkat akar rumput.

«“Bagi kami para petani sawit, Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) bukan sekadar program untuk mengganti tanaman tua dengan tanaman baru. Lebih dari itu, PSR adalah harapan baru bagi petani,” ujar Setiyono.»

Menurutnya, keberhasilan program kemitraan dan peremajaan sawit tidak cukup hanya diukur dari aspek agronomi.

Setiyono menilai keberhasilan PSR juga perlu tercermin melalui peningkatan produktivitas kebun, pendapatan keluarga petani, penguatan kelembagaan petani, serta keberlanjutan perkebunan sawit rakyat bagi generasi berikutnya.

Penguatan KUD dan Tata Kelola Berkelanjutan

Dalam konteks kemitraan, penguatan kelembagaan petani dan Koperasi Unit Desa (KUD) menjadi bagian penting untuk memastikan program peremajaan dan pengelolaan kebun rakyat dapat berjalan secara berkelanjutan.

Pendampingan yang mencakup administrasi, penerapan Good Agricultural Practices (GAP), akses terhadap program PSR, hingga kepastian penyerapan hasil panen diharapkan dapat membantu petani meningkatkan kapasitas pengelolaan kebunnya.

Momentum Hari Tani Nasional menjadi pengingat bahwa keberlanjutan industri sawit nasional tidak terlepas dari kondisi perkebunan rakyat.

Karena itu, kolaborasi antara petani, kelembagaan KUD, perusahaan, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas sekaligus memperkuat posisi petani dalam rantai pasok sawit nasional.

Melalui penguatan kemitraan, edukasi berkelanjutan, peremajaan tanaman tua, dan tata kelola perkebunan yang baik, perkebunan sawit rakyat diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan industri sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan keluarganya.(Red.)*