Seputarpublik.com || LEBAK, BANTEN — Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Lebak memperkuat upaya pencegahan perundungan atau bullying di lingkungan sekolah. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui Program Pagi Menyapa, yang mendorong guru hadir lebih awal untuk menyambut sekaligus memantau kondisi peserta didik sejak tiba di sekolah.
Kepala Dindik Lebak, Doddy Irawan, mengatakan program tersebut tidak sekadar menjadi rutinitas menyambut siswa. Kehadiran guru di gerbang sekolah diharapkan dapat membangun kedekatan emosional dengan peserta didik sekaligus membantu mengenali kondisi mereka sejak dini.
“Pagi Menyapa melibatkan guru yang menyambut siswa di gerbang sekolah setiap pagi. Ini diharapkan dapat membangun kedekatan emosional sekaligus mendeteksi bagaimana kondisi psikologis anak,” kata Doddy, Jumat (9/10/2026).
Menurutnya, risiko kekerasan maupun perundungan di sekolah perlu diantisipasi melalui pengawasan yang lebih aktif terhadap aktivitas siswa. Karena itu, guru didorong untuk hadir di lingkungan sekolah, baik saat peserta didik datang maupun ketika kegiatan belajar berlangsung.
“Kita harus hadir lebih awal untuk memastikan lingkungan pendidikan yang baik, nyaman dan aman bagi peserta didik,” ujarnya.
Dindik Lebak Dorong Penataan Area Rawan Bullying
Selain memperkuat pengawasan, Dindik Lebak juga meminta pihak sekolah membenahi fasilitas dan area yang berpotensi menjadi lokasi terjadinya perundungan.
Area yang minim pengawasan perlu ditata agar tidak menjadi tempat terjadinya tindakan kekerasan yang luput dari perhatian pihak sekolah.
“Contohnya kondisi toilet yang bersih atau mengurangi ruang-ruang tidak terpakai. Ruang gelap ini harus dibuat terang sehingga tidak bisa dijadikan tempat untuk bullying,” ungkap Doddy.
Menurutnya, penataan lingkungan sekolah perlu berjalan beriringan dengan pengawasan agar peserta didik dapat menjalani kegiatan belajar dalam suasana yang aman dan nyaman.
Komunikasi Guru dan Orang Tua Jadi Kunci Pencegahan
Doddy menilai pencegahan perundungan tidak cukup hanya mengandalkan pihak sekolah. Orang tua atau wali murid juga memiliki peran penting dalam memperhatikan kondisi anak, terutama ketika siswa menunjukkan perubahan perilaku atau menyampaikan keluhan di rumah.
Karena itu, komunikasi antara sekolah dan orang tua perlu dibangun secara terbuka agar persoalan yang dialami peserta didik dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.
“Saya sudah memerintahkan kepada guru-guru agar membuka ruang dengan para wali. Ini bisa dijadikan alat untuk memonitor ketika dia (siswa) mengadu ke ibunya sehingga cepat diselesaikan oleh sekolah,” jelasnya.
Komunikasi yang baik diharapkan dapat membantu guru dan orang tua bertukar informasi mengenai kondisi anak, sehingga potensi permasalahan di lingkungan sekolah dapat lebih cepat dikenali.
Program Pagi Menyapa Diharapkan Ciptakan Sekolah Aman
Melalui pengawasan yang lebih aktif serta komunikasi yang terjalin antara guru, siswa, dan orang tua, Doddy berharap lingkungan pendidikan di Kabupaten Lebak semakin aman dan mampu mencegah perundungan terhadap peserta didik.
Ia menegaskan bahwa kebiasaan menyapa siswa sejak pagi juga dapat menjadi sarana membangun kedekatan dan memperkuat koordinasi antara guru dengan peserta didik.
“Dengan menyapa, koordinasi dan komunikasi bisa terus terjalin dengan baik antara siswa dan guru. Sehingga kasus bullying dan yang lainnya bisa sejak dini dicegah,” pungkasnya.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat kepedulian seluruh unsur pendidikan terhadap keamanan dan kenyamanan siswa, sekaligus membangun lingkungan sekolah yang mendukung proses belajar tanpa perundungan.
*Penulis: AN