Seputar Publik / Berita

Bang Foke dan Bamus Betawi 1982 Dorong Pelestarian Kampung Tua Jakarta, Sejarah Jangan Sampai Hilang

FGD di Jakarta Barat membahas penelusuran sejarah berbasis bukti, dokumentasi bangunan bersejarah, serta pelibatan masyarakat untuk menjaga identitas dan warisan budaya Betawi.
Bang Foke bersama Bamus Betawi 1982, budayawan, sejarawan, penulis, dan pemangku kepentingan kebudayaan membahas pelestarian serta dokumentasi kampung tua Jakarta dalam FGD di Brits Hotel, Kembangan, Jakarta Barat, Minggu (11/10/2026). Bang Foke bersama Bamus Betawi 1982, budayawan, sejarawan, penulis, dan pemangku kepentingan kebudayaan membahas pelestarian serta dokumentasi kampung tua Jakarta dalam FGD di Brits Hotel, Kembangan, Jakarta Barat, Minggu (11/10/2026).

Ia menilai pembangunan kota perlu berjalan seiring dengan perlindungan identitas sejarah dan budaya. Tanpa perhatian yang memadai, bangunan bersejarah berisiko kehilangan karakter, sementara tradisi dan ingatan kolektif masyarakat dapat terputus.

Karena itu, pendidikan sejarah dan pelibatan masyarakat perlu menjadi bagian dari agenda pelestarian, bukan hanya berhenti pada kegiatan dokumentasi.

Penulisan Sejarah Kampung Harus Berbasis Bukti

Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra dan Yoyo Muchtar menyoroti pentingnya menelusuri sejarah kampung melalui beragam sumber, mulai dari manuskrip, arsip, peta lama, hingga cerita lisan yang diwariskan masyarakat.

Pembahasan mengenai Aki Tirem, Kali Tirem, Rorotan, Salakanagara, dan Tarumanegara, misalnya, dapat menjadi pintu masuk untuk menelusuri berbagai narasi sejarah Jakarta dan wilayah sekitarnya. Meski demikian, hubungan antarkisah, asal-usul, dan kronologinya tetap perlu diuji menggunakan sumber yang relevan.

Menurut keduanya, cerita lisan merupakan sumber penting, tetapi perlu dibandingkan dengan manuskrip, arsip, peta lama, dan bukti lain agar penulisan sejarah memiliki dasar yang kuat.

Tulis Komentar

Komentar