Seputarpublik.com || JAKARTA, — Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa perubahan besar bagi industri media. Di tengah tuntutan kecepatan produksi berita dan derasnya arus informasi digital, pers Indonesia menghadapi tantangan serius dalam menjaga kualitas jurnalistik, independensi media, serta kepercayaan publik.
Direktur Eksekutif baru Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS), Anthonius Jimmy Silalahi, mengingatkan bahwa kondisi pers nasional membutuhkan perhatian serius. Menurut dia, kemajuan teknologi tidak boleh membuat insan pers mengabaikan prinsip-prinsip dasar jurnalistik.
“Kita harus jujur mengakui, pers kita sekarang tidak sedang baik-baik saja,” ujar Jimmy dalam acara serah terima jabatan Direktur Eksekutif LPDS dari Kristanto Hartadi di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Jimmy menilai pers menghadapi tantangan dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, disrupsi teknologi dan AI mengubah pola produksi serta distribusi berita. Di sisi lain, persoalan mendasar terkait kualitas pemberitaan, independensi media, dan kepercayaan publik masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan.
Di tengah berbagai persoalan sosial, politik, dan ekonomi, masyarakat membutuhkan pers yang kuat dan profesional. Publik tidak cukup hanya memperoleh berita secara cepat, tetapi juga membutuhkan informasi yang akurat, berimbang, dan memberikan edukasi.
Hal tersebut sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang mengatur peran pers dalam memenuhi hak masyarakat untuk memperoleh informasi serta menjalankan fungsi kontrol sosial.
AI Bisa Membantu Wartawan, tetapi Etika Tetap Menjadi Landasan
Menghadapi perubahan teknologi, Jimmy menegaskan LPDS akan tetap berpegang pada mandat utamanya sebagai lembaga pendidikan pers. Sejak dibentuk oleh Dewan Pers melalui sidang pleno pada 1987, LPDS berkomitmen meningkatkan kompetensi wartawan agar mampu menghasilkan karya jurnalistik berkualitas.
Menurut Jimmy, tantangan saat ini bukan sekadar mengajarkan wartawan menggunakan AI untuk membantu penulisan berita atau proses verifikasi fakta. Lebih dari itu, jurnalis perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dan memahami batas penggunaan teknologi dalam kerja jurnalistik.
“AI bisa membantu kecepatan, tapi AI tidak punya nurani, tidak punya etika jurnalistik, dan tidak bisa turun ke lapangan untuk merasakan denyut nadi masyarakat,” kata Jimmy.
Karena itu, LPDS akan terus menanamkan pemahaman bahwa teknologi harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti tanggung jawab profesional wartawan.
Kemampuan melakukan verifikasi, memahami konteks, menggali informasi langsung dari sumber, serta mempertimbangkan dampak pemberitaan tetap menjadi bagian penting dari kerja jurnalistik yang tidak boleh diabaikan.
Jimmy juga mengajak para pemangku kepentingan dari sektor pemerintah, swasta, dan industri media untuk berkolaborasi membangun ekosistem pers yang sehat. Salah satu langkah yang didorong ialah menghadirkan inovasi program pelatihan jurnalistik agar dapat menjangkau wartawan di berbagai wilayah Indonesia.
“Untuk menjadi bangsa yang maju, harus memiliki pers yang maju. Mari mewujudkannya bersama LPDS,” ujarnya.
Dewan Pers Soroti Banjir Informasi dan Disrupsi Algoritma
Tantangan tersebut turut menjadi perhatian Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto. Dalam sambutannya, Totok menyoroti pesatnya pertumbuhan pers digital yang berjalan beriringan dengan meningkatnya kompleksitas persoalan di ruang informasi.
Banjir informasi, perubahan algoritma platform digital, dan perkembangan AI dinilai membuat masyarakat semakin membutuhkan kemampuan untuk membedakan berita berkualitas dari konten yang tidak memenuhi standar jurnalistik.
“Sekarang ini pers digital tumbuh luar biasa, tetapi juga menghadapi tantangan berat. Banjir informasi, disrupsi algoritma, dan kehadiran AI membuat batas antara berita berkualitas dan sekadar konten menjadi kabur,” ujar Totok.
Dalam situasi tersebut, Totok menilai LPDS memiliki peran penting dalam menjaga marwah jurnalistik melalui pendidikan dan peningkatan kompetensi wartawan.
Dewan Pers, lanjut dia, akan terus mendukung program pendidikan pers agar jurnalis Indonesia memiliki kemampuan profesional sekaligus menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik di era digital.
Dukungan tersebut penting karena perubahan teknologi tidak hanya memengaruhi cara berita diproduksi, tetapi juga bagaimana informasi didistribusikan, dikonsumsi, dan dipercaya masyarakat.
Kepemimpinan Baru, Kristanto Hartadi Tetap Mendukung LPDS
Serah terima jabatan tersebut menandai dimulainya kepemimpinan Jimmy Silalahi setelah Kristanto Hartadi mengundurkan diri dari posisi Direktur Eksekutif LPDS. Kristanto sebelumnya menjabat sejak 2023 atau selama sekitar tiga tahun.
Dalam sambutan perpisahannya, Kristanto menegaskan bahwa pengunduran dirinya dari jabatan direktur eksekutif tidak berarti dirinya meninggalkan lembaga pendidikan jurnalistik tersebut.
“Saya tidak akan ke mana-mana. Saya akan terus berada di sini dan mendukung penuh keberadaan serta perjuangan LPDS ke depan. LPDS ini rumah kita bersama, dan saya akan terus mengabdi untuk memastikan lembaga ini tetap relevan dan maju,” ujar Kristanto.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran yang telah mendukung kepemimpinannya. Kristanto berharap LPDS di bawah kepemimpinan baru dapat semakin adaptif menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan komitmen terhadap profesionalisme jurnalistik.
Acara serah terima jabatan itu turut dihadiri sejumlah tokoh pers nasional, antara lain Anggota Dewan Pers Maha Eka Swasta, Ketua Dewan Pengawas TVRI Agus Sudibyo, Dewan Pengawas RRI Sulaeman, Pembina Yayasan Pendidikan Multimedia Adinegoro Bambang Harymurti, serta sejumlah pengurus dan anggota Dewan Pengawas LPDS.
Hadir pula Sekretaris Jenderal PWI Pusat Marthen Slamet Susanto dan sejumlah tokoh pers lainnya.
Selama hampir empat dekade, LPDS telah melatih ribuan wartawan dari berbagai daerah di Indonesia. Lembaga ini dikenal berperan dalam pengembangan kompetensi wartawan sekaligus menjaga standar profesionalisme dan etika jurnalistik.
Di tengah perkembangan AI dan perubahan lanskap media digital, tantangan LPDS ke depan bukan hanya memastikan wartawan mampu mengikuti kemajuan teknologi, tetapi juga menjaga agar jurnalisme tetap berpijak pada akurasi, independensi, dan kepentingan publik.
Sebab, ketika informasi semakin mudah diproduksi oleh mesin, kepercayaan masyarakat justru menjadi salah satu modal terpenting bagi keberlangsungan pers yang profesional dan bertanggung jawab.
*(Penulis; Helmi)
Seputarpublik.com — Tepat dan Berimbang.